Namun,
pada pelaksanaannya, manfaat-manfaat tersebut justru jarang muncul, khususnya
bagi siswa SD. Anak malah merasakan berbagai hal negatif, misalnya yang paling
sering adalah perasaan tertekan. Efek selanjutnya, anak menjadi malas ke
sekolah dan semakin “alergi” terhadap berbagai mata pelajaran. Efek negatif
tersebut muncul karena kekeliruan pada tataran praktis, yakni guru terlalu
banyak memberikan PR kepada anak. Padahal menurut International Academy of
Education (IAE), PR bisa bermanfaat jika diberikan secara teratur (lihat Educational
Practices Series 2, bagian Parents and Learning oleh Sam Redding).
Jadi manfaat PR tidak tergantung pada jumlahnya, tetapi lebih pada keteraturan.
International
Academy of Education lebih lanjut mencontohkan penerapan keteraturan itu.
Pihak sekolah memberikan PR yang bisa dikerjakan selama 10 menit setiap malam
untuk siswa kelas pertama SD. Kemudian pada kelas berikutnya, diberi tambahan
10 menit. Demikian seterusnya untuk kelas selanjutnya. Keteraturan ini sangat
baik untuk memaksimalkan manfaat PR bagi si kecil.
Jika Anda merasa bahwa PR yang
dibebankan kepada buah hati Anda terlalu banyak dan berat, sebaiknya Anda
mengomunikasikannya kepada guru atau kepala sekolah. Diharapkan terjadi diskusi
yang positif dan membangun demi kebaikan seluruh siswa, khususnya putra-putri
Anda


0 komen:
Posting Komentar